Logo PHDI Pusat
Lampiran A.1. Keputusan Paruman Sulinggih Tentang Yasa Kirti Print E-mail
 

KEPUTUSAN

PARUMAN SULINGGIH

TINGKAT PROVINSI

TH. 1994/1995

TENTANG

YASA KIRTI UMAT HINDU

DALAM RANGKA MENYONGSONG

KARYA AGUNG EKA BHUWANA

 

Dalam rangka menyongsong upacara Eka Bhuwana di Pura Agung Besakih, yang akan dilaksanakan bertepatan dengan Tilem Sasih Kesanga tahun 1996 yang akan datang, patut didukung oleh seluruh umat Hindu melalui pelaksanaan yasa kirti masing-masing.

Adapun yasa kirti yang patut dilaksanakan dalam hubungan itu adalah sebagai berikut :

 

1. Yasa kirti yang berhubungan dengan perilaku.

Yasa kirti yang berhubungan dengan perilaku disepakati untuk dilaksanakan oleh seluruh umat Hindu, sebagaimana yang termuat dalam lontar Dewa Tattwa dan lontar Indik Panca Wali Krama, yaitu sebagai berikut :

 

Anaku sang para empu danghyang sang mahyun tuwa janma, luputing sangsara papa, kramanya sang kumingkin akarya sanista madya uttama, manah lega dadi ayu, aywa ngalem drewya mwang kamugutan kaliliraning wwang uttama, aywa mangambekang kroda mwang ujar gangsul; ujar menak juga kawedar denira. Mangkana kramanining sang ngarepang karya. Aywa simpanging budi mwang krodha; yan kadya mangkana patut pagaenya sawidi-widananya, tekeng atalendanya, mwang ring sasayutnya, maraga dewa sami, tekeng wawangunan sami.

(Kutipan Lontar Dewa Tattwa)

 

Selanjutnya sesuai dengan kutipan lontar Indik Panca Wali Krama diuraikan sebagai berikut :

 

kayatnakna, aywa saulah-ulah lumaku, ngulah subal, yan tan hana bener anut linging haji, nirgawe pwaranya, kawalik purihnya ika, amrih ayu byakta atemahan ala, mangkana wenang ika kapratyaksa de sang adiksani, ika katiga wenang atunggalan palaksana nira among saraja karya. Aywa kasingsal, apan ring yadnya tan wenang kacacaban, kacampuran manah weci, ambek branta, sabdaparusya, ikang manah stiti jati nirmala juga maka sidhaning karya, marganing amanggih sadya rahayu, kasidhaning panuju mangkana kengetakna estu phalanya.

(Kutipan lontar Indik Panca Walikrama)

 

Singkatnya yang patut dilaksanakan sebagai wujud pengabdian dan cetusan rasa bhakti bagi setiap orang yang akan melaksanakan suatu yadnya adalah sebagai berikut :

a. Tidak dibenarkan mengikatkan diri pada harta benda yang akan dipergunakan untuk yadnya. Sewajarnya yadnya itu dilandasi dengan keikhlasan.

b. Tidak dibenarkan menampilkan kemarahan serta mengeluarkan kata-kata yang kasar.

c. Jangalah hendaknya menyimpang dari kebenaran.

d. Tata cara pelaksanaan yadnya itu hendaknya sesuai dan menurut ketentuan dalam sastranya.

e. Ketiga unsur utama pelaksana yadnya, yaitu Pendeta yang akan memuja, tulang banten dan orang yang melaksanakan yadnya itu hendaknya seiring sejalan, tidak saling bertentangan.

f. Tidak boleh berpikir yang tidak baik, serta mengeluarkan kata-kata yang kasar dan tidak enak didengar.

g. Perbuatan yang mencerminkan rasa bhakti yang dilandasi kesucian diri pribadi hendaknya yang selalu ditampilkan.

 

Oleh karena Karya Agung Eka Bhuwana yang akan dilaksanakan nantinya adalah merupakan upacara/yadnya milik seluruh umat Hindu, maka sudah sepatutnyalah seluruh umat Hidu ikut bersama-sama melaksanakan yasa kirti sebagaimana tersebut diatas.

 

2. Yasa kirti yang berwujud upakara yang patut dipersembahkan, serta tata cara pelaksanaan terhadap yang meninggal dunia.

Pada garis besarnya bahwa yasa kirti yang berwujud upakara yang patut dipersembahkan dalam rangka menyongsong Karya Agung Eka Bhuwana itu nanti, sama dengan yang telah dilaksanakan dalam hubungan menyongsong Karya Agung Tri Bhuwana, Candi Narmada dan Panca Wali Krama di Danu tahun 1993 yang lalu.

Upacara dan upakara yang patut dipersembahkan sebagai yasa kirti dalam rangka menyongsong upacara Eka Bhuwana yang akan datang selengkapnya adalah sebagai berikut :

 

a. Upakara yang patut dipersembahkan pada waktu mulainya pelaksanaan persiapan upacara sesuai dengan waktu yang akan ditetapkan kemudian adalah sebagai berikut :

1). Upacara yang dilaksanakan di Pura SadKahyangan, Dang Kahyangan, Pura Kahyangan Desa, serta pura lainnya :

Menghaturkan upakara berupa : Daksina pejati, canang yasa, canang sari serta sodaan. Seluruh umat diharapkan saat itu melaksanakan persembahyangan bersama, disertai doa yang isinya mempermaklumkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi bahwa seluruh umat Hindu akan melaksanakan upacara Eka Bhuwana, serta mohon perkenan serta tuntutan dan bimbingan-Nya agar upacara itu nanti berjalan dengan lancar. Upacara ini cukup diantar oleh Pemangku pura yang bersangkutan.

2). Upacara yang dilaksanakan di Merajan masing-masing.

Mengaturkan upakara berupa : Sodaan serta canang sari. Diiringi doa yang sama eperti tersebut diatas. Mulai saat ini hendaknya pengendalian diri dalam hubungan dengan yasa kirti yang patut ditampilkan dalam perilaku hendaknya dapat ditingkatkan lagi.

 

b. Tata cara dan usaha-usaha untuk memelihara kesucian Yadnya yang akan dipersembahkan.

Sebagai usaha untuk menjaga kesucian pelaksanaan upacara sebelum memulai persiapan upacara di Pura Besakih diimbau agar umat yang masih memiliki jenazah yang belum diabenkan hendaknya melaksanakan upacara pengabenan. Bilamana tidak mampu melaksanakan hingga batas waktu yaitu menjelang mulainya persiapan upacara di Pura Besakih, hendaknya melaksanakan upacara di kuburan dengan menggunakan tirtha Pemarisudha (Penglukatan serta pembersihan) yang akan dimohon di Pura Dalem Puri Besakih. Adapun tata cara pelaksanaannya adalah sebagai berikut :

1. Tirtha dimohon di Pura Dalem Puri Besakih, dengan menghaturkan upakara berupa : daksina pejati, canang sari, serta segehan cacahan satu soroh. Tempat tirtha agar disiapkan dua buah terbuat dari sujang (bambu yang dihias secukupnya) lengkap dengan kain, serta tedung. Khusus bagi umat Hindu di luar daerah Bali pelaksanaan mohon tirtha tersebut dapat dilakukan melalui Pura yang ada di daerah masing-masing.

2. Setibanya di desa/wilayah masing-masing, tirtha tersebut disambut dengan upakara penyambutan terdiri dari : canang sari, serta segehan, kemudian ditempatkan di Pura Dalem serta dipersembahkan saji-sajian menurut kemampuan masing-masing.

3. Setelah selesai menghaturkan persembahyangan tersebut diatas, selanjutnya dapat dibagikan kepada seluruh umat di wilayah tersebut agar dipercikkan pada tempat suci, anggota keluarga serta pekarangan masing-masing.

4. Di tempat suci keluarga masing-masing (merajan) menghaturkan upakara berupa : sodaan putih kuning dan canang sari.

5. Bagi mereka yang masih memiliki jenazah yang dikubur (belum diaben) hendaknya juga memercikkan tirtha tersebut di setra (kuburan)

6. Sebelum memercikkannya terlebih dahulu menghaturkan persembahan di Pura Dalam serta Pura Prajapati berupa : peras daksina, ajengan putih kuning, ketipat kelanan serta segehan.

Diiringi doa kehadapan Ida Sang Hyang Widhi agar diberikan kesucian dalam pelaksanaan upacara nanti dan roh yang belum mendapat upacara pengabenan tidak mengganggu pelaksanaan upacara.

7. Di Setra (kuburan) menghaturkan : tipat pesor, nasi angkeb, pangkonan putih kuning asagi, dengan doa agar sang pitara berkenan ikut menjaga kesucian dan tidak mengganggu pelaksanaan upacara. Setelah itu diakhiri dengan pemercikan tirtha tersebut.

Catatan : khusus bagi umat Hindu di luar daerah Bali pelaksanaannya disesuaikan dengan kemampuan dan keadaan setempat.

c. Tata cara pelaksanaan bagi orang yang meninggal setelah mulainya persiapan upacara di Besakih.

Setelah selesai pelaksanaan pemercikan tirtha tersebut diatas, bila setelah itu ada yang meninggal dunia pelaksanaannya diatur sebagai berikut :

1). Bilamana yang meninggal adalah Sulinggih atau Pemangku atau mereka yang menurut tradisi tidak boleh dikubur, diperkenankan untuk menempatkan di rumah masing-masing. Tata pelaksanaan upacara menyimpan mayat dirumah sesuai dengan ketentuan ajaran agama Hindu dilaksanakan sebagaimana biasa dengan suatu "Munggah tumpang salu" sedangkan yang lain yang tergolong walaka setelah diupacarai dan dibungkus (malelet) langsung dibaringkan saja. Disamping itu diharapkan agar tidak menyembinyikan kentongan milik banjar, dengan maksud agar masyarakat luas tidak ikut kena Cuntaka. Pelaksanaan upacara pengabenan baru dapat dilaksanakan setelah selesainya semua rangkaian upacara di Pura Besakih, sesuai dengan waktu yang akan ditetapkan kemudian.

2). Jika akan dikubur, maka tata cara pelaksanaan upacara penguburan pada dasarnya dilaksanakan sebagaimana mestinya, dengan ketentuan : tidak membunyikan kentongan milik banjar, dan pelaksanaan penguburannya agar dilaksanakan setelah tenggelamnya matahari.

 

3. Tata cara pelaksanaan upacara Padudusan Alit di Bale Agung masing-masing Desa Adat serta upacara taur Penyepian.

Bersamaan dengan pelaksanaan Upacara Eka Bhuwana di Pura Agung Besakih, masing-masing desa adat melaksanakan upacara merebu bumi bertempat di Pura Bale Agung sebagaimana ditentukan dalam kutipan lontar tentang Ngeka Dasa Rudra sebagai berikut :

……Tekaning sejagat Bali merebhu bhumi, swa karyane ring Bale Agung. Wenang karyane madudus alit, mapenjor maka jagat.

(Kutipan Lontar Ngeka Dasa Rudra)

 

Berkenaan dengan hal tersebut maka yang menjadi tugas dan kewajiban masing-masing desa : Adat dalam rangka menyongsong Upacara Eka Bhuwana itu nanti adalah sebagai berikut :

a. Memang penjor :

Sesuai dengan kutipan lontar yang dijadikan pegangan dalam pelaksanaan upacara Eka Bhuwana seperti tersebut di atas, hendaknya seluruh masyarakat umat Hindu memasang penjor di depan rumah masing-masing.

Pemasangannya bersamaan dengan dilaksanakannya upacara Nedunang Ida Bhatara di Pura Besakih, sesuai dengan waktu yang akan ditetapkan kemudian.

Bentuk dan wujud penjor tersebut adalah seperti penjor hari raya Galungan.

 

b. Tempat pelaksanaan upacara Merebu bumi masing-masing desa Adat.

Tempat pelaksanaan upacara Merebu bumi di masing-masing desa adat adalah di Pura Bale Agung atau di tempat yang biasa dipergunakan melaksanakan upacara setelah selesainya melasti dalam hubungan dengan hari raya Nyepi.

Bagi desa yang tidak memiliki tempat seperti tersebut diatas, dapat dibenarkan untuk melaksanakannya di tempat darurat yang disepakati bersama, serta telah disucikan sebelumnya.

Khususnya bagi umat Hindu di luar daerah Bali diharapkan juga agar melaksanakan upacara yang sama di tempat suci yang ada di wilayah masing-masing.

 

c. Waktu pelaksanaan upacara Merebu Bumi :

Waktu untuk melaksanakan upacara Merebu Bumi dimasing-masing desa adat adalah bersamaan dengan waktu pelaksanaan upacara Eka Bhuwana di Pura Agung Besakih, yaitu dari Tilem Sasih.

 

d. Rincian dan upakara untuk upacara Merebu Bumi di Bale Agung masing-masing desa adat.

1). Memasang Sanggar Tutuan :

Upakaranya berupa : Suci 2 soroh, dewa-dewi, catur rebah wedia, ghana, selengkapnya sebagaimana upakara untuk Sanggar Tutuan.

2). Di bawah Sanggar :

Menghaturkan upakara Pageneyan, suci 2 soroh, gelar sanga.

3). Caru di natar pura :

Sekurang-kurangnya memakai ayam lima warna ditambah dengan itik. Dengan susunan sesuai dengan ketentuan yang telah berlaku.

4). Upakara untuk ayaban :

Upakara sesuai dengan kemampuan masing-masing, dan disertai dengan Sesayut Dhirga Yusa Bumi, Sesayur Prayascita luwih, Sesayut Pageh Tuwuh, Sesayut Sida Purna serta Sesayut Sida Karya.

5). Upakara Padudusan Alit :

Mempergunakan upakara : Catur Rebah, Bebangkit 1 soroh, Catur Kumba, eteh-eteh padudusan alit selengkapnya.

6). Urutan pelaksanaannya sebagai berikut :

a. Pada hari yang ditetapkan untuk melaksanakan upacara mellasti, semua pralingga/arca yang ada di Pura wilayah desa yang bersngkutan ikut bersama-sama melasti ke tempat yang biasa dipergunakan untuk itu.

b. Setelah kembali dari melasti, semua pralingga ditempatkan di Pura Bale Agung atau di tempat sebagaimana yang ditetapkan di masing-masing desa, sebagai tersebut di atas.

c. Setelah semuanya siap dilanjutkan dengan melaksanakan upacara Merebu Bumi sesuai dengan rincian upakara tersebut diatas.

d. Setelah selesainya upacara Pengrupukan, semua pralingga kembali disimpan di tampat masing-masing.

e. Dilanjutkan dengan melaksanakan upacara pengrupukan seperti biasa.

 

e. Petugas yang mengantarkan upacara (pemuput karya)

Untuk mengantarkan Merebu Bumi dengan tingkat upacara madudus alit, sesuai dengan ketentuan yang telah berlaku patut dipuja oleh Sulinggih.

Bilamana tidak memungkinkan untuk mendatangkan Sulinggih, pelaksanaannya adalah dengan jalan menggunakan tirtha yang dimohon di Pura Besakih. Dengan sarana tirtha yang dimohon dari Pura Agung Besakih, pelaksanaan selanjutnya dapat dilakukan oleh Pemangku.

Untuk memohon tirtha ke Pura Agung Besakih, masing-masing desa Adat dapat mengutus wakilnya. Waktu untuk memohonnya akan ditentukan kemudian.

Penggunaan tirtha yang dimohon dari Pura Besakih tetap dilakukan walaupun upacara tersebut dipuja oleh Sulinggih.

 

f. Pelaksanaan upacara pecaruan dalam rangkaian Hari Raya Nyepi.

1). Pelaksanaan uapacara pecaruan di masing-masing perumahan, desa dan wilayah lainnya tetap dilaksanakan sebagaimana biasa.

2). Tambahan upacara yang patut dilaksanakan sebagai wujud yasa kirtinya umat Hindu dalam menyongsong Upacara Eka Bhuwana adalah :

a. Setelah selesai sembahyang dalam rangkaian upacara Marebu Bumi di Pura Bale Agung atau ditempat yang telah ditentukan, dilanjutkan dengan mohon tirta di tempat itu untuk dibawa ke rumah masing-masing.

b. Di masing-masing merajan (tempat suci keluarga) menghaturkan upakara : daksina pejati 1 soroh, canang yasa, canang sari, sodaan putih kuning dan prayascita durmanggala.

c. Semua anggota keluarga bersama-sama ngayab upakara Pabiyakalaan yang disiapkan di rumah masing-masing.

d. Tirtha yang dimohon ditempat upacara Merebu Bumi tersebut diatas dipergunakan untuk memerki upakara, semua anggota keluarga serta seluruh pekarangan.

e. Dilanjutkan dengan melaksanakan upacara pengrupukan seperti biasa.

 
< Prev   Next >
"));