Logo PHDI Pusat
Budaya Spiritual dan Pendidikan Budi Pekerti . ( 1 ) Print E-mail

Budaya Spiritual dan Pendidikan Budi Pekerti …. ( 1 )
Oleh : Drs. I Made Purna, MSi, Denpasar.

Budaya Spiritual Sebagai Sumber Pendidikan Budi Pekerti
Negara kesatuan Republik Indonesia merupakan negara dengan tingkat pluralitas tertinggi di muka bumi. Negara dengan wilayah sekitar 7,5 juta kilo meter persegi, terdiri atas kurang lebih 17.000 pulau dan penduduk mencapai 212 juta jiwa yang terdiri lebih dan 540 suku bangsa, dengan bahasa, adat istiadat dan kepercayaan yang beraneka ragam. Di samping agama Islam, Katolik, Kristen, Hindu, dan Budha, terdapat pula beratus kepercayaan suku bangsa, dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Budaya Spiritual dan Pendidikan Budi Pekerti …. ( 1 )
Oleh : Drs. I Made Purna, MSi, Denpasar.

Budaya Spiritual Sebagai Sumber Pendidikan Budi Pekerti
Negara kesatuan Republik Indonesia merupakan negara dengan tingkat pluralitas tertinggi di muka bumi. Negara dengan wilayah sekitar 7,5 juta kilo meter persegi, terdiri atas kurang lebih 17.000 pulau dan penduduk mencapai 212 juta jiwa yang terdiri lebih dan 540 suku bangsa, dengan bahasa, adat istiadat dan kepercayaan yang beraneka ragam. Di samping agama Islam, Katolik, Kristen, Hindu, dan Budha, terdapat pula beratus kepercayaan suku bangsa, dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
 
Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah pernyataan dan pelaksanaan hubungan pribadi dengan Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan keyakinan yang diwujudkan dengan prilaku ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa atau peribadatan serta pengamalan budi luhur. Penganut yang melaksanakan kepercayaan tersebut disebut penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Mereka berhimpun dan membentuk organisasi dalam bentuk paguyuban, kekadangan, perguruan, pakempalan dan sebagainya.
 
Berdasarkan data terakhir yang tercatat pada Asisten Deputi Urusan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa tahun 2003 (sekarang menjadi Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa Departemen Kebudayaan dan Pariwisata), telah terdaftar 248 organisasi kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa tingkat pusat dengan 953 cabang yang tersebar di 27 Propinsi dengan anggota sekitar 8,5 juta orang. Di Propinsi Bali terdapat
7 organisasi penghayat yang berpusat di Bali dan 22 organisasi penghayat yang mempunyai cabang di Bali dengan anggota sekitar 33.887 orang (Asdep Kepercayaan, 2005). Sampai saat ini (2007) jumlah warga penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa di Propinsi Bali baik dan organisasi yang berstatus pusat maupun cabang beiiumlah sekitar 50 .000 orang. Kondisi masing-masing organisasi kepercayaan tersebut bervariasi, baik dan jumlah anggota, kegiatan, manajemen organisasi, kondisi sosial ekonomi, pendidikan dan sebagainya.

Adapun 7 organisai penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang berstatus Pusat di Bali adalah:

1. Wisnu Buda/Eka Adnyana;
2. Sanggar Pengayoman Majapahit;
3. Organisasi Kekeluargaan;
4. Budi Suci;
5. Paguyuban Penghayat Kunci;
6. Bambu Kuning; dan
7. Surya Candra Bhuana.

Sedangkan organisasi yang berstatus cabang di Bali adalah:

1. Sri Murni;
2. Sapta Dharma;
3. Perguruan Ilmu Sejati;
4. Susila Budhi Dharma (Subud);
5. Perjalanan Tri Luhur;
6. Dharma Murti;
7. Radha Soami Satsang Beas;
8. Ananda Marga; dan
9. 6 Paguyuban Penghayat Kapribaden.
 
Tiap organisasi penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa memiliki ajaran-ajaran yang dipakai untuk membina, menuntun dan mengarahkan warganya untuk menuju budi luhur. Jadi ajaran-ajaran kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa bisa dikatakan sebagai warung/sumber pendidikan budi pekerti, karena melalui ajaran-ajaran tersebut kita bisa mendapatkan pedoman hidup atau nilai-nilai luhur yang bisa dijadikan sebagai pegangan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
 
Untuk mengetahui dan membuktikan bahwa ajaran-ajaran kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa itu sebagai warung/sumber pendidikan budi pekerti maka kita mesti mengenal terlebih dahulu ajaran-ajaran dan organisasi penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang pada dasamya terbagi atas:

Ajaran tentang Tuhan Yang Maha Esa
Menurut organisasi Budi Suci, Tuhan menciptakan alam seisinya, Tuhan di atas segalanya. Tuhan sebagai Sang Pencipta adalah bersifat Maha, di antaranya Maha Kuasa, Maha
Pengasih, Maha Adil, Maha Pemurah, Maha Gaib.
 
Menurut Sanggar Pengayoman Majapahit : Hidup berdekat Tuhan. Menurut Wisnu Buda/Eka Adnyana, kedudukan Tuhan adalah transenden, yaitu dapat mengantarkan sesuatu sesuai dengan sifat penjelmaan. Sifat-sifat Tuhan adalah Maha Kuasa, tidak terbatas, Maha Agung, Maha Tinggi, Maha Besar, Maha Halus, Maha Pengasih, Maha Penyayang dan Maha Pengampun.

Menurut organisasi Kekeluargaan, sesuatu yang ada tidak mungkin lahir dan yang tidak ada (teori sebab akibat). Tuhan itu memang betul ada meskipun tidak dapat dipandang dengan indra lahiriah. Tuhan adalah merupakan “sebab yang pertama”. Menurut Paguyuban Penghayat Kunci, Tuhan adalah sebagai pencipta, pemelihara dan pelebur dunia beserta isinya. Oleh karena itu Tuhan itu sumber dan segala sumber dan berada di atas segala-galanya. Dengan demikian kedudukan Tuhan tanpa ujung dan pangkal. Tuhan bersifat Maha Esa, Suci, Maha Pemurah, Maha Pengasih dan Penyayang, Maha Tahu, mempunyai kekuasaan yang tiada terbatas, dapat menjangkau apa yang tidak dapat dijangkau manusia.
 
Menurut Bambu Kuning: “Om Ekam Evam Adwityam Brahman “, Tuhan itu Maha Tunggal, tidak ada yang kedua (dan hanya para bijaksanalah yang memberi bermacam-macam nama). Sifat-sifat Tuhan adalah universal. Beliau Maha Agung, Maha Kuasa, Maha Pengasih dan Penyayang, Maha Sempurna, Maha Gaib dan lain sebagainya.
 
Menurut Surya Candra Bhuana, semua orang percaya adanya Tuhan, bahkan negara Indonesia pun memakai dasar negara yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa pada Pancasila yang merupakan sila pertama. Surya Candra Bhuana Iebih mengutamakan pendekatan terhadap Tuhan, yang merupakan suatu kewajiban. Keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa serta pengamalan budi luhur.
 
Dan ajaran tentang Tuhan Yang Maha Esa ini kita dapat memperoleh hikmah atau pelajaran bahwa kita mesti sujud bhakti, eling, dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa karena Beliau adalah Sang Maha Pencipta, Pemelihara dan Pemusnah segala yang ada di dunia ini. Ajaran ini menjadi sumber pendidikan budi pekerti yang luhur bagi umat manusia sebagai ciptaanNya.

Ajaran tentang Manusia
Menurut Budi Suci, manusia berasal dari alam Tuhan, alam Suci, alam kelanggengan, alam sangkan-paraning dumadi, lahir ke dunia dengan dua unsur-unsur non materi ialah jiwa, rohani, batin, dan unsur materi ialah raga yang terdiri dari sarinya bumi, sarinya air, sarinya api, sarinya angin. Sebagai makhluk tertinggi manusia memiliki kelengkapan hidup berupa akal, budi, rasa dan perasaan, memiliki kemampuan untuk mengekspresikan kelengkapan tersebut dengan alat ucap dan perbuatan. Pada diri manusia melekat sifat-sifat luhur, nafsu dan kebodohan. Pola prilaku yang nampak tergantung dan kadar sifat-sifat tadi. Dengan akal budi, rasa dan perasaan manusia dapat mengemban hidupnya dengan melaksanakan nilai-nilai luhur yang melekat pada dirinya yang pada akhirnya menuju cita-cita hidup yaitu suatu keadaan dimana terdapat suatu keseimbangan antara kebutuhan lahin dan batin maupun suatu kebahagiaan semasih hidup di dunia maupun setelah di alam Tuhan.
 
Menurut Sanggar Pengayoman Majapahit, manusia hams melebur din dengan bersemedi, selalu menjaga sikap kesucian, kesopanan, kejujuran, welas asih dan etika. Menunut Wisnu Buda/Eka Adnyana, manusia merupakan ciptaan Tuhan. Untuk selanjutnya manusia menyelenggarakan, melaksanakan perintahNya, dan tidak akan pernah lebih tinggi ataupun sama dengan penciptaNya.

Struktur manusia terbagi dalam jasmani dan rohani. Untuk itu Tuhan Yang MaFia Esa memberkahi manusia dengan kelengkapan-kelengkapan sebagai berikut : indra sebagai panca indra, alat pengabdian, jiwa dan budi pekerti, rasa dan karsa, alat penangkap untuk melaksanakan tugas.
 
Sebagai umat, manusia mempunyai kewajiban-kewajiban antara lain:
a. Terhadap Tuhan Yang Maha Esa;  Manusia berkewajiban untuk berbakti, mengabdi, melaksanakan segala tuntutannya untuk menuju kepada keselamatan dunia beserta isinya.
b. Terhadap diri sendiri;  Manusia berkewajiban untuk mengembangkan potensi, sesuai dengan jalur yang wajar dan dapat diterima oleh akal sehat, selanjutnya menempa diri untuk dapat menjalankan tugas suci sehingga tercapai kebahagiaan hidup di dunia nyata dan akhirat.
c. Terhadap sesama manusia; Manusia berkewajiban untuk melaksanakan kontrol sosialnya demi kepentingan sesama dan terhormat kedudukannya, selanjutnya sebagai manusia berkewajiban pula mewujudkan Titi, Tata, Tutur dan Tentrem.

Titi berarti astiti/bakti kepada Ida Sang Hyang Widhi, para leluhur, kawitan, Bethara-Bethari, Hyang, dan terutama sekali kepada Bapak dan Ibu yang melahirkan. Tata berarti bertingkah laku yang baik/beretika. Tutur berarti berkata-kata yang baik. Tentrem berarti titi, tata, dan tutur yang baik akan dapat ketentraman. Itulah pitutur luhur yang telah diwariskan oleh sesepuh organisasi Wisnu Buda/Eka Adnyana (alm. I Gusti Made Rai) kepada putra-putranya dan seluruh warganya yang pada hakekatnya sama dengan ajaran Trikaya Parisuda, yaitu berfikir, berkata, dan berbuat yang baik. Di samping itu ada pula larangan-larangan yang tidak boleh dilaksanakan oieh warga Wisnu Buda/Eka Adnyana yang disingkat 4 M, yaitu Main, Maling, Madon, Madat. Main berarti berjudi, Maling berarti mencuri, Madon berarti merusak anak/istri orang/berselingkuh, dan Madat berarti mabuk-mabukan ataupun menggunakan narkoba.
 
Menurut ajaran Organisasi Kekeluargaan, kata manusia berasal dari kata manushya yang berarti mahluk yang mempunyai pikiran. Pikiran inilah yang membedakan manusia dengan mahluk hidup lainnya, seperti binatang dan tumbuh-tumbuhan. Manusia adalah mahluk yang paling sempurna di antara semua mahluk iairinya, karena manusia memiliki 3 unsur yaitu bergerak, berbicara, dan berpikir (bayu, sabda, idep). Manusia memiliki kesempurnaan indria untuk mengantarkan dirinya mencapai tujuan hidupnya dan dengan menggunakan akal pikirannya manusia dapat mengatasi segala kesulitan-kesulitan hidupnya dimana hal ini dapat dilakukan oleh mahluk lainnya. Menjadi manusia sungguh utama karena itu dia dapat menolong dirinya dari sengsara dengan jalan karma yang baik. Demikianlah keistimewaan menjadi manusia.
 
Menurut Paguyuban Penghayat Kunci, manusia sebagai salah satu ciptaan Tuhan yang terjadi akibat pertemuan kamubang dan kamupetak (darah merah dan darah putih) lahir ke dunia memiliki dua unsur yaitu jiwa dan raga. Jiwa berasal dari pancaran sinar suci Yang Maha Suci, sedangkan raga berasal dari sarinya dari bumi yaitu air, api, udara, dan sarinya dari langit. Manusia sebagai mahluk tertinggi dilengkapi cipta, rasa, dan karsa yang mana pengungkapannya melalui pemikiran, kata dan perbuatan.
 
Menurut Bambu Kuning, manusia tercipta oleh Tuhan dengan struktur badan rohani dan badan fisik. Roh adalah satwam, yaitu zat Tuhan yang sangat gaib, sedangkan fisik adalah pembungkus/atau wadah roh (rohani) yang berisi keinginan-keinginan atau disebut rajas-tamas.

Sifat-sifat manusia menurut Bambu Kuning terdiri dari satwam, rajas dan tamas. Para anggota Bambu Kuning berusaha memunculkan/membangkitkan satwam itu ke permukaan, karena ia memiliki kekuatan gaib. Dengan mengalirnya secara terus-menerus maka diharapkan seseorang mempunyai sifat-sfat satwam dalam kehidupannya di samping memiliki kekuatan gaib yang dashyat. Dengan demikian berarti pula berusaha untuk mengurangi atau mengendalikan rajas-tamas itu.

Menurut Surya Candra Bhuana, ajaran tentang manusia yang telah diwariskan leluhur dengan istilah tat twam asi yang artinya saya adalah kamu dan kamu adalah saya. Ajaran budaya inilah yang perlu ditanamkan pada setiap orang. Dengan demikian akan terjadi hubungan yang harmonis antar manusia itu sendiri, saling menghargai dan saling menghormati. WHD No. 509 Mei 2009.

 

 

 
< Prev   Next >
"));