Logo PHDI Pusat
Tiga Kerangka Agama Hindu Landasi Print E-mail

Tiga Kerangka Agama Hindu Landasi
Pelaksanaan Upakara dan Upacara

BERYADNYA dengan mempersembahkan banten tiap hari atau pada hari-hari suci sudah mentradisi di Bali, merupakan pengejawantahan ajaran Weda serta dapat dilaksanakan semua umat. Pengamalan ajaran agama Hindu dilandasi Tiga Kerangka Agama Hindu yaitu Tattwa, Tata Susila dan Upacara. Dalam pelaksanaannya, ketiganya harus dilakukan secara bersama-sama. Pembuatan banten dan pelaksanaan upacara, jika tidak dilandasi sastra agama, tidak diiringi tata susila maka upacara tidak akan sempurna. Demikian dijelaskan Dosen Upakara Fakultas Ilmu Agama Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar Dra Ni Wayan Wandri, MSi, sebagai pembawa materi teknik membuat banten dalam workshop yang dilaksanakan Bisnis Bali kerja sama Mahajaya Agrowisata, UNHI Denpasar dan Ranee Cosmetic, Minggu (15/2) besok bertempat di Mahajaya Agrowisata, Br. Cau Desa Tua, Marga Tabanan.
“Upakara berarti bahan-bahan untuk membuat banten dan juga berarti banten sebagai sarana yadnya. Tata cara pelaksanaan yadnya disebut upacara, dan dalam upacara dibutuhkan berbagai sarana dan prasanana” ujarnya.

Secara konseptual, komponen upacara mendekatkan unsur-unsur seni dan budaya menjadi satu kesatuan yang saling melengkapi. Pembagian banten banyak mulai dari yang paling sederhana hingga banten yang terdiri dari beberapa bagian sehingga terlihat rumit dan kompleks.
Mulai dari bentuk paling sederhana yaitu canang, dibagi lagi menjadi beberapa jenis canang seperti canang genten, canang gantal, canang burat wangi, canang tubungan, canang pawitra, canang sari, canang nyahnyah gringsing, canang pangrawos, canang pasucian, canang yasa, canang rebong, canang oyodan, cane, canting meraka dan lainnya.

Dalam pembuatan canang penggunaan porosan sangat panting dan tidak boleh dihilangkan. Porosan merupakan lambang Tri Murti. Sirih sebagai simbul Dewa Wisnu kapur simbul Dewa Iswara atau Siwa dan pinang simbul Dewa Brahma. Selain banten, juga dipergunakan kwangen dalam upacara yaitu pada persembahyangan. Kwangen merupakan simbul Ongkara, untuk memuja Ida Sang Hyang Widhi sebagai Ista Dewata dalam wujud Ardanareswari.

Banten jotan atau saiban merupakan yadnya sehari-hari dengan perlengkapan nasi, garam, sambal serta lauk-pauk yang baru dimasak, dipersembahkan sebelum makan atau setelah memasak. Pelaksanaan saiban dalam Bhagawadgita, bahwa di dunia ini diciptakan Hyang Widhi berdasarkan yadnya. Oleh karena itu, untuk mendapatkan keselamatan dan kesejahteraan umat, hendaknya melaksanakan yadnya.

Untuk segehan, dikenal beberapa-jenis segehan yang penggunaannya disesuaikan dengan keperluan dan juga tempat. Masing-masing segehan memiliki cara atau tata cara pembuatan atau pengaturan seperti segehan kepel, segehan mancawarna, sagehan cucaban dan segehan agung.

Banten penyucian terdiri dari byakaon, durmanggala dan prayascita sakti. Byakaon dengan perlengkapan pembersihan, isuh-isuh, amel-amel sasak mentah, sorohan alit, padma, lis pebyakalaan dan penyeneng.

Penyucian durmanggala dipergunakan bila ada kerusakan besar yang disebabkan Panca Maha Bhuta seperti rumah terbakar, banjir lumpur, gempa bumi, angin kencang, ada kelainan yang tumbuh pada tempat tinggal, tempat suci, sawah atau ladang. Banten ini juga digunakan pada tingkatan caru dan padudusan.

Prayascita sakti digunakan pada upacara pembersihan bangunan yang baru selesai, diperbaiki, piodalan setelah cuntaka kematian atau melahirkan.

Banten Pejati
Banten Pejati berfungsi sebagai sarana permakluman atau pernyataan akan suatu hal. Misalnya, akan melaksanakan suatu yadnya atau membuka suatu usaha. Banten Pejati ini terdiri dari daksina, peras sodan atau ajuman, tipat kelanan, pesucian dilengkapi dengan canang dan segehan. Dilengkapi juga dengan penyeneng. (rya).BisnisBali – Sabtu, 14 Pebruari 2009.

 

 

 
< Prev   Next >
"));