Logo PHDI Pusat
Hari Raya Pagerwesi Print E-mail

Bali Post – Rabu Kliwon, 7 Januari 2009.
Hari Raya Pagerwesi

Setelah umat merayakan Hari Saraswati, hari ini Rabu Kliwon (7/1) Wuku
Sinta umat Hindu melanjutkan dengan perayaan Pagerwesi. Apa sesungguhnya hakikat Pagerwesi?

GURU besar Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Prof. Dr. TB Gunadha, M.Si. mengatakan dalam perayaan Pagerwesi ini umat memuja Ida Sang Hyang Widhi (Tuhan) dalam manifestasinya sebagai Siwa Mahaguru atau Hyang Paramestiguru - sumber dan segala guru. Lewat bimbingan gurulah kita dapat menguasai pengetahuan dengan baik.

Setelah umat mendapatkan kaweruhan (ilmu pengetahuan), pengetahuan itulah dijadikan benteng yang kuat, memagari diri menghadapi tantangan hidup atau bekal untuk mencapai tujuan hidup kesejahteraan dan ketenangan batin.

Dalam perayaan Pagerwesi inilah umat sejatinya diajarkan tentang kewaspadaan menghadapi berbagai tantangan. Dengan demikian kita penuh kesadaran. “Saat kita menghadapi berbagai tantangan, kita sejatinya diajarkan menarik diri ke dalam berenung. Dengan demilcian kita dapat dengan jelas melihat persoalan sehingga mampu mencari solusi pemecahannya atau memperoleh jalan yang terang tetap berada di jalur kebenaran (satya),” ujarnya.

Hal senada dikatakari guru besar Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar Prof. Drs. Ketut Subagiasta, M.Si., D.Phil. Ketika Ida Sang Hyang Widi (Sang Hyang Aji Saraswati) menurunkan ilmu pengetahuan saat Saraswati, kemudian dalam mempelajarinya umat memerlukan guru. Dalam hal ini peran guru sangatlah mulia. Saat Pagerwesi-lah umat memuja Tuhan dalam manifestasinya sebagai mahaguru - Hyang Paramestiguru. “Setelah umat mendapat ilmu pengetahuan, teori pengetahuan itu perlu dipraktikkan atau diimplementasikan. Dalam mengimplementasikan itu perlu guru pembimbing. Ilmu pengetahuan (jnana) yang diperoleh itu selanjutnya dimaknai atau dipraktikkan (wijnana) dalam menjalani kehidupan yang penuh rintangan,” ujarnya sembari menegaskan Pagerwesi itu mengandung makna bahwa pengetahuan yang telah dikuasai itu hendaknya dijadikan pagar yang kuat dalam menjalani kehidupan - bentengi diri dengan ilmu pengetahuan.

Dosen UNHI Drs. TB Suatama, M.Si. mengatakan hal yang sama. Dalam konteks mempelajari ilmu pengetahuan, kehadiran guru pengajian sangatlah penting. Berkat bimbingan gurulah umat dapat menguasai pengetahuan dengan baik dan benar.

Guru, lanjut TB Suatama, mengandung dua hal yakni gunatika dan rupadita. Gunatika artinya seorang guru harus mampu melewati triguna - satyam, rajas dan tamas. Sedangkan rupadita artinya sudah tidak terikat lagi dengan hal-hal yang bernuansa duniawi. Itu sebabnya, guru itu sangat dihormati dan dipatuhi. Guru hanya berkepentingan agar sisya (siswa)nya mencapai kecerdasan dan kematangan. Ilmu pengetahuan itulah dipakai bekal untuk mencapai kemajuan dalam menjalani kehidupan - yakni mendapatkan makanan yang baik (wareg), memperoleh sandang (wastra), memiliki rumah yang sehat atau papan (wisma), tetap dalam kondisi sehat (waras), menghibur diri atau refresing (wisata) dan menjaga nama baik (wasita). (lun). 

 

 
< Prev   Next >
"));